Selasa, 07 Juli 2009

Gadis kecil itu selalu berputar

Pagi itu udara cerah secerah senyum gadis kecil yang akan memasuki dunia sekolah. Persiapan memasuki dunianya yang baru sudah mulai terasa saat matahari belum menampakkan sinarnya sampai menjelang berangkat ke sekolah. Nyanyian kecil keluar dari mulut mungilnya sambil menggerakkan tubuhnya yang tidak pernah diam. Celotehannya menyapa suasana pagi di depan teras rumahnya,"Namaku Lala,umurku 4 tahun sebentar lagi aku mau masuk sekolah bermain." Setelah menghabiskan sarapan paginya, berangkatlah Lala didampingi Bundanya. Sesampai di sekolah banyak teman barunya yang belun ia kenal, mulailah kekakuan dan rasa malunya muncul sambil bersandar tidak mau lepas dari pangkuan Bundanya. "Assalamualaikum, namanya siapa?" Bu guru menyapanya, dengan suara pelan menjawab," La-la. Diajaknya Lala mengelilingi ruang-ruang sekolah sambil melihat apa saja yang ada didalam kelas. Kekakuan itu mulai mencair.
Tak terasa Lala melewati dan merasakan dunia sekolah hampir tiga bulan, entah kenapa pada suatu hari Lala datang dari sekolah dengan muka cemberut sambil mendekati sang Bunda dengan suara pelan," Bunda, mulai besok Lala nggak mau sekolah lagi " Bunda kaget kenapa tiba-tiba Lala meminta seperti itu,"Kenapa,sayang ? Apa Lala sakit ? Bunda penasaran ingin mendengar jawaban dari Lala. Lalu Lala bercerita selama di sekolah dengan keluguannya,"Di sekolah mulut Lala harus di kunci tidak boleh bicara,kaki dan tangan Lala tidak boleh bergerak,terus tidak boleh keliling duduk manis seperti patung. Lala bosan dengan sekolah seperti itu. Tak henti- hentinya sang Bunda membujuk Lala untuk sekolah lagi.
Hampir satu minggu Lala menikmati hari-harinya di rumah, ternyata ada rasa kerinduan untuk kembali ke sekolah bertemu dengan teman-temannya. Minggu kedua setelah menghilanh dari sekolah, Lala menapakkan kakinya lagi di sekolah. Dengan langkah yang lunglai seakan ada memori kejenuhan yang masih melekat dibenaknya. Agak canggung masuk ke dalam kelas meletakkan tasnya dan bergumam," Wow...indah sekali di dalam kelas di sekeliling terpampang gambar binatang,buah,profesi,transportasi dan juga ada huruf dan angka." Untuk apa semua ini,"sambil bertanya dalam hati. Bel masuk sekolah mulailah guru mengawali kegiatannya mengajak anak-anak membentuk lingkaran sambil menggerakkan tubuhnya berlari,berjongkok dan melompat dengan permainan tebak gambar. Semua gambar yang ada disekeliling kelas di tutup terbalik. Sambil berputar dan bernyanyi tiap anak mengambil gambar yang ada di dinding kelas, setelah semuanya memegang gambar tiap anak mengajukan tebak gambar sambil bernyanyi. Siapa yang bisa menebak gambar disilahkan memilih kegiatan bermain selanjutnya. Permainan selanjutnya sudah tersedi media menggambar,menempel,melukis dan bermain angka dan huruf. "Wah, asyik sekali pelajaran hari ini dengan bermain rasanya menyenangkan dan tak terasa bel istirahat sudah terdengar." Terlihat raut wajah Lala menampakkan kelelahan yang menggembirakan, keluar kelas menghampiri Bundanya sambil berbisik," Bunda, mulai hari ini dan seterusnya Lala mau sekolah..."

Bunda dan sahabat pendidik, untuk menjadi sahabat anak kita harus tahu dan paham apa yang menjadi kebutuhan anak didalam perkembangannya. Paradigma kita selayaknya sudah mulai berubah bahwa anak bukan lagi sebagai obyek tapi sebagai subyek bagi dirinya untuk memilih kegiatan yang dapat menstimulasi untuk perkembangan selanjutnya. Posisi kita sebagai fasilitator yang memberikan media bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi yang ada dalam dirinya. Kenali karakter dan gaya belajar anak. Semua anak Genius kalau gurunya Kreatif...Semua anak Cerdas kalau gurunya Paham...dan Semua anak Hebat kalau Bundanya Sabar. Jadilah sahabat bagi anak.

Bunda dan sahabat pendidik
Tataplah matanya saat berbicara
Rangkullah tubuhnya ketika meminta
Langkahkan kakinya saat mengajak
Balaslah ketika tersenyum
Masuklah ke dunianya menjadi sahabat sejatinya

Tidak ada komentar: