Senin, 13 Juli 2009

Bising yang Bermakna

Kesejukan pagi menyapa kesibukan keluarga seorang bocah yang mempersiapkan rutinitas keseharian yang dilakukan untuk kelangsungan hidup. Dengan cekatan si bocah membantu ibunya memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke pasar untuk membuka warung nasi. Hari itu adalah hari pertama bagi anak-anak sebayanya masuk ke sekolah. Bima begitu ia kerap dipanggil,umrnya baru empat tahun, tidak lagi menikmati dunia sekolah karena ia enjoy dengan rutinitas yang dilakukan. Bukan berarti ibunya tidak memasukkan Bima ke sekolah, beberapa sekolah bemain sudah ia rasakan tapi berakhir dengan kelelahan yang menjenuhkan sehingga membuat Bima meminta pada ibunya untuk tidak sekolah. Keseharian Bima menemani ibunya dipasar dengan suasana yang hiruk pikuk dan Bima adalah seorang bocah yang tidak bisa diam apalagi pada saat bertemu dengan teman sebayanya. Bahasa tubuhnya semua bergerak mulai dari mata, mulut, dan tangannya seakan ingin menunjukkan kegiatan yang baru ia kerjakan. Pagi itu ia menemukan sobekan daun yang sudah tidak terpakai. Dengan kelenturan tangan mungilnya sambil berceloteh jadilah sebuah topi dari daun. Itulah keseharian Bima, ia jalani dengan kegembiraan di tengah keramaian.
Suatu hari ibunya terkejut mendengar pinta dari Bima," Bu..sekarang Bima pengin sekolah tapi sekolah yang dekat pasar itu." Entah kenapa Bima memilih sekolah itu. Dengan keyakinan yang masih setengah si ibu memasukkan Bima ke sekolah yang ia inginkan. Hari pertama masuk sekolah nampak keceriaan di wajah Bima karena masuk ke dalam kelas terdengar suara-suara dari beberapa sudut ruangan yang terbagi dalam beberapa kelompok anak. Suara celotehan anak yang sibuk dengan aktivitas hari itu. Suasana gaduh yang bermakna dan menyenangkan bagi anak disaat mengekspresikan membuat sebuah karya yang disukai. Ada teriakan kecil yang meminta," Bu guru...aku ingin melukis," Dari sisi sebelah kanan juga memohon," Bu guru..aku ingin menulis," Dari kelompok yang dekat di sebelah bu guru juga meminta," Bu guru..kalau aku pengin mendengarkan cerita." Oke, silahkan ambil alat-alat yang kalian inginkan ditempatnya, dan silahkan kembali ke tempatnya dengan bergantian dan tertib," pinta Bu guru yang diikuti oleh anak-anak sambil memilih kegiatan yang disukai. Suasana bising tapi menyenangkan bagi anak menikmati dunianya. "Bima, kamu ingin mengerjakan apa ?" sapa Bu guru. Si Bima meminta kertas pada Bu guru ingin membuat topi dan kapal seperti yang ia buat saat menemani ibunya berjualan dipasar.
Sebulan sudah Bima menikmati dunia sekolah yang menjadi pilihannya, padahal sekolahnya kurang memenuhi kriteria sebuah sekolah bermain, tapi Bima merasa nyaman dan senang sekolah di sana. Terlihat setiap pulang sekolah selalu tampak keceriaan yang ia tampilkan disertai segudang cerita tentang kegiatannya pada ibunya. Sambil mengakhiri ceritanya si Bima mendekati ibunya dan berbisik," Bu..Bima mau terus sekolah,di sekolah itu saja."

Bunda dan sahabat pendidik
Keberadaan seorang anak dalam perkembangannya tidak bisa kita lepaskan dari faktor latar belakang lingkungannya dan kultur sosialnya. Mengenal karakter anak kalau boleh kita tambahkan, tidak hanya memahami kebutuhan dan potensi anak tapi juga memahami lingkungan dan kultur dimana anak itu tinggal. Karena apa yang ia alami di lingkungannya berada akan terbawa di lingkungan yang baru. Keberadaan di lingkungan yang baru yang mirip akan terasa aman dan nyaman bagi dirinya untuk memvisualisasikan dan mengaktualisasikan apa yang menjadi keinginannya. Dengan kondisi demikian anak merasa dihargai sehingga akan menampilkan sosok pribadi dengan rasa percaya diri yang utuh.
Pola pembelajaran bagi anak tidak menganut bahwa "suasana sepi dan sunyi adalah belajar "kadang anak memerlukan paradigma baru bahwa "dengan kebisingan juga akan membuahkan hasil yang bermakna."

Bunda dan sahabat pendidik
Bangkitkan rasa percaya diri dengan menghargainya
Lejitkan potensinya melalui karyanya
Kayakan hatinya dengan selalu berbagi
Hanya dengan keikhlasan kita bisa berharap

Tidak ada komentar: