Aku seorang anak yang kehadiranku di dunia banyak dianugerahi keindahan, apa yang aku inginkan selalu ada, apapun yang aku impikan pasti terlaksana, indahnya dunia masa kecil aku rasakan dengan kebahagiaan. Hai, lihat disana juga ada seorang anak yang kehadirannya diselimuti keterbatasan, aku ingin mewujudkan anganku tapi support lingkunganku tidak ada hanya keterbatasan yang membuat aku terkungkung, tetapi aku masih memiliki keceriaan menikmati masa kecilku. Nun jauh di sudut sana terlihat seorang bocah duduk bersila tidak menghiraukan keramaian disekitarnya. Asyik dengan mainannya sendiri. "Aku juga seorang anak yang ingin melalui masa kecilku dengan kesempurnaan," Suara hatinya berbisik. Andai suara itu keluar dari mulut mungil si bocah,tapi apa daya ketidaksempurnaan menemaninya melewati dunianya. "Tapi ketidaksempurnaan tidak membuat aku untuk tidak ceria," pinta suara hati yang lirih.
Yah..apapun keberagaman seorang anak hadir di dunia, keceriaan selalu ia tampilkan dalam melewati masa-masa kecilnya. Duniaku adalah bermain, keceriaan adalah nafasku. Itulah yang selalu ada dibenak anak-anak kita tanpa mempedulikan kondisi yang ia hadapi hari ini, kemarin dan esok. Hari ini mereka nikmati karena hari ini yang mereka miliki tanpa memikirkan lagi apa yang sudah dilaluinya kemarin dan tidak ada beban untuk memikirkan apa yang akan dikerjakannya esok hari. Mereka nikmati yang ada sekarang. Ini adalah wujud syukur dari seorang anak kepada Sang Pencipta dan jarang kita temui pada orang dewasa.
Bocah kecilku
Bermainlah dengan nafas keceriaanmu
Ciptakan banyak mimpi dalam setiap gerakmu
Lantunkan suaramu dengan senyuman
Selalulah berbagi untuk persahabatan
Bagimu...anak anak Indonesia
Rabu, 22 Juli 2009
Senin, 13 Juli 2009
Bising yang Bermakna
Kesejukan pagi menyapa kesibukan keluarga seorang bocah yang mempersiapkan rutinitas keseharian yang dilakukan untuk kelangsungan hidup. Dengan cekatan si bocah membantu ibunya memasukkan barang-barang yang akan dibawa ke pasar untuk membuka warung nasi. Hari itu adalah hari pertama bagi anak-anak sebayanya masuk ke sekolah. Bima begitu ia kerap dipanggil,umrnya baru empat tahun, tidak lagi menikmati dunia sekolah karena ia enjoy dengan rutinitas yang dilakukan. Bukan berarti ibunya tidak memasukkan Bima ke sekolah, beberapa sekolah bemain sudah ia rasakan tapi berakhir dengan kelelahan yang menjenuhkan sehingga membuat Bima meminta pada ibunya untuk tidak sekolah. Keseharian Bima menemani ibunya dipasar dengan suasana yang hiruk pikuk dan Bima adalah seorang bocah yang tidak bisa diam apalagi pada saat bertemu dengan teman sebayanya. Bahasa tubuhnya semua bergerak mulai dari mata, mulut, dan tangannya seakan ingin menunjukkan kegiatan yang baru ia kerjakan. Pagi itu ia menemukan sobekan daun yang sudah tidak terpakai. Dengan kelenturan tangan mungilnya sambil berceloteh jadilah sebuah topi dari daun. Itulah keseharian Bima, ia jalani dengan kegembiraan di tengah keramaian.
Suatu hari ibunya terkejut mendengar pinta dari Bima," Bu..sekarang Bima pengin sekolah tapi sekolah yang dekat pasar itu." Entah kenapa Bima memilih sekolah itu. Dengan keyakinan yang masih setengah si ibu memasukkan Bima ke sekolah yang ia inginkan. Hari pertama masuk sekolah nampak keceriaan di wajah Bima karena masuk ke dalam kelas terdengar suara-suara dari beberapa sudut ruangan yang terbagi dalam beberapa kelompok anak. Suara celotehan anak yang sibuk dengan aktivitas hari itu. Suasana gaduh yang bermakna dan menyenangkan bagi anak disaat mengekspresikan membuat sebuah karya yang disukai. Ada teriakan kecil yang meminta," Bu guru...aku ingin melukis," Dari sisi sebelah kanan juga memohon," Bu guru..aku ingin menulis," Dari kelompok yang dekat di sebelah bu guru juga meminta," Bu guru..kalau aku pengin mendengarkan cerita." Oke, silahkan ambil alat-alat yang kalian inginkan ditempatnya, dan silahkan kembali ke tempatnya dengan bergantian dan tertib," pinta Bu guru yang diikuti oleh anak-anak sambil memilih kegiatan yang disukai. Suasana bising tapi menyenangkan bagi anak menikmati dunianya. "Bima, kamu ingin mengerjakan apa ?" sapa Bu guru. Si Bima meminta kertas pada Bu guru ingin membuat topi dan kapal seperti yang ia buat saat menemani ibunya berjualan dipasar.
Sebulan sudah Bima menikmati dunia sekolah yang menjadi pilihannya, padahal sekolahnya kurang memenuhi kriteria sebuah sekolah bermain, tapi Bima merasa nyaman dan senang sekolah di sana. Terlihat setiap pulang sekolah selalu tampak keceriaan yang ia tampilkan disertai segudang cerita tentang kegiatannya pada ibunya. Sambil mengakhiri ceritanya si Bima mendekati ibunya dan berbisik," Bu..Bima mau terus sekolah,di sekolah itu saja."
Bunda dan sahabat pendidik
Keberadaan seorang anak dalam perkembangannya tidak bisa kita lepaskan dari faktor latar belakang lingkungannya dan kultur sosialnya. Mengenal karakter anak kalau boleh kita tambahkan, tidak hanya memahami kebutuhan dan potensi anak tapi juga memahami lingkungan dan kultur dimana anak itu tinggal. Karena apa yang ia alami di lingkungannya berada akan terbawa di lingkungan yang baru. Keberadaan di lingkungan yang baru yang mirip akan terasa aman dan nyaman bagi dirinya untuk memvisualisasikan dan mengaktualisasikan apa yang menjadi keinginannya. Dengan kondisi demikian anak merasa dihargai sehingga akan menampilkan sosok pribadi dengan rasa percaya diri yang utuh.
Pola pembelajaran bagi anak tidak menganut bahwa "suasana sepi dan sunyi adalah belajar "kadang anak memerlukan paradigma baru bahwa "dengan kebisingan juga akan membuahkan hasil yang bermakna."
Bunda dan sahabat pendidik
Bangkitkan rasa percaya diri dengan menghargainya
Lejitkan potensinya melalui karyanya
Kayakan hatinya dengan selalu berbagi
Hanya dengan keikhlasan kita bisa berharap
Suatu hari ibunya terkejut mendengar pinta dari Bima," Bu..sekarang Bima pengin sekolah tapi sekolah yang dekat pasar itu." Entah kenapa Bima memilih sekolah itu. Dengan keyakinan yang masih setengah si ibu memasukkan Bima ke sekolah yang ia inginkan. Hari pertama masuk sekolah nampak keceriaan di wajah Bima karena masuk ke dalam kelas terdengar suara-suara dari beberapa sudut ruangan yang terbagi dalam beberapa kelompok anak. Suara celotehan anak yang sibuk dengan aktivitas hari itu. Suasana gaduh yang bermakna dan menyenangkan bagi anak disaat mengekspresikan membuat sebuah karya yang disukai. Ada teriakan kecil yang meminta," Bu guru...aku ingin melukis," Dari sisi sebelah kanan juga memohon," Bu guru..aku ingin menulis," Dari kelompok yang dekat di sebelah bu guru juga meminta," Bu guru..kalau aku pengin mendengarkan cerita." Oke, silahkan ambil alat-alat yang kalian inginkan ditempatnya, dan silahkan kembali ke tempatnya dengan bergantian dan tertib," pinta Bu guru yang diikuti oleh anak-anak sambil memilih kegiatan yang disukai. Suasana bising tapi menyenangkan bagi anak menikmati dunianya. "Bima, kamu ingin mengerjakan apa ?" sapa Bu guru. Si Bima meminta kertas pada Bu guru ingin membuat topi dan kapal seperti yang ia buat saat menemani ibunya berjualan dipasar.
Sebulan sudah Bima menikmati dunia sekolah yang menjadi pilihannya, padahal sekolahnya kurang memenuhi kriteria sebuah sekolah bermain, tapi Bima merasa nyaman dan senang sekolah di sana. Terlihat setiap pulang sekolah selalu tampak keceriaan yang ia tampilkan disertai segudang cerita tentang kegiatannya pada ibunya. Sambil mengakhiri ceritanya si Bima mendekati ibunya dan berbisik," Bu..Bima mau terus sekolah,di sekolah itu saja."
Bunda dan sahabat pendidik
Keberadaan seorang anak dalam perkembangannya tidak bisa kita lepaskan dari faktor latar belakang lingkungannya dan kultur sosialnya. Mengenal karakter anak kalau boleh kita tambahkan, tidak hanya memahami kebutuhan dan potensi anak tapi juga memahami lingkungan dan kultur dimana anak itu tinggal. Karena apa yang ia alami di lingkungannya berada akan terbawa di lingkungan yang baru. Keberadaan di lingkungan yang baru yang mirip akan terasa aman dan nyaman bagi dirinya untuk memvisualisasikan dan mengaktualisasikan apa yang menjadi keinginannya. Dengan kondisi demikian anak merasa dihargai sehingga akan menampilkan sosok pribadi dengan rasa percaya diri yang utuh.
Pola pembelajaran bagi anak tidak menganut bahwa "suasana sepi dan sunyi adalah belajar "kadang anak memerlukan paradigma baru bahwa "dengan kebisingan juga akan membuahkan hasil yang bermakna."
Bunda dan sahabat pendidik
Bangkitkan rasa percaya diri dengan menghargainya
Lejitkan potensinya melalui karyanya
Kayakan hatinya dengan selalu berbagi
Hanya dengan keikhlasan kita bisa berharap
Selasa, 07 Juli 2009
Gadis kecil itu selalu berputar
Pagi itu udara cerah secerah senyum gadis kecil yang akan memasuki dunia sekolah. Persiapan memasuki dunianya yang baru sudah mulai terasa saat matahari belum menampakkan sinarnya sampai menjelang berangkat ke sekolah. Nyanyian kecil keluar dari mulut mungilnya sambil menggerakkan tubuhnya yang tidak pernah diam. Celotehannya menyapa suasana pagi di depan teras rumahnya,"Namaku Lala,umurku 4 tahun sebentar lagi aku mau masuk sekolah bermain." Setelah menghabiskan sarapan paginya, berangkatlah Lala didampingi Bundanya. Sesampai di sekolah banyak teman barunya yang belun ia kenal, mulailah kekakuan dan rasa malunya muncul sambil bersandar tidak mau lepas dari pangkuan Bundanya. "Assalamualaikum, namanya siapa?" Bu guru menyapanya, dengan suara pelan menjawab," La-la. Diajaknya Lala mengelilingi ruang-ruang sekolah sambil melihat apa saja yang ada didalam kelas. Kekakuan itu mulai mencair.
Tak terasa Lala melewati dan merasakan dunia sekolah hampir tiga bulan, entah kenapa pada suatu hari Lala datang dari sekolah dengan muka cemberut sambil mendekati sang Bunda dengan suara pelan," Bunda, mulai besok Lala nggak mau sekolah lagi " Bunda kaget kenapa tiba-tiba Lala meminta seperti itu,"Kenapa,sayang ? Apa Lala sakit ? Bunda penasaran ingin mendengar jawaban dari Lala. Lalu Lala bercerita selama di sekolah dengan keluguannya,"Di sekolah mulut Lala harus di kunci tidak boleh bicara,kaki dan tangan Lala tidak boleh bergerak,terus tidak boleh keliling duduk manis seperti patung. Lala bosan dengan sekolah seperti itu. Tak henti- hentinya sang Bunda membujuk Lala untuk sekolah lagi.
Hampir satu minggu Lala menikmati hari-harinya di rumah, ternyata ada rasa kerinduan untuk kembali ke sekolah bertemu dengan teman-temannya. Minggu kedua setelah menghilanh dari sekolah, Lala menapakkan kakinya lagi di sekolah. Dengan langkah yang lunglai seakan ada memori kejenuhan yang masih melekat dibenaknya. Agak canggung masuk ke dalam kelas meletakkan tasnya dan bergumam," Wow...indah sekali di dalam kelas di sekeliling terpampang gambar binatang,buah,profesi,transportasi dan juga ada huruf dan angka." Untuk apa semua ini,"sambil bertanya dalam hati. Bel masuk sekolah mulailah guru mengawali kegiatannya mengajak anak-anak membentuk lingkaran sambil menggerakkan tubuhnya berlari,berjongkok dan melompat dengan permainan tebak gambar. Semua gambar yang ada disekeliling kelas di tutup terbalik. Sambil berputar dan bernyanyi tiap anak mengambil gambar yang ada di dinding kelas, setelah semuanya memegang gambar tiap anak mengajukan tebak gambar sambil bernyanyi. Siapa yang bisa menebak gambar disilahkan memilih kegiatan bermain selanjutnya. Permainan selanjutnya sudah tersedi media menggambar,menempel,melukis dan bermain angka dan huruf. "Wah, asyik sekali pelajaran hari ini dengan bermain rasanya menyenangkan dan tak terasa bel istirahat sudah terdengar." Terlihat raut wajah Lala menampakkan kelelahan yang menggembirakan, keluar kelas menghampiri Bundanya sambil berbisik," Bunda, mulai hari ini dan seterusnya Lala mau sekolah..."
Bunda dan sahabat pendidik, untuk menjadi sahabat anak kita harus tahu dan paham apa yang menjadi kebutuhan anak didalam perkembangannya. Paradigma kita selayaknya sudah mulai berubah bahwa anak bukan lagi sebagai obyek tapi sebagai subyek bagi dirinya untuk memilih kegiatan yang dapat menstimulasi untuk perkembangan selanjutnya. Posisi kita sebagai fasilitator yang memberikan media bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi yang ada dalam dirinya. Kenali karakter dan gaya belajar anak. Semua anak Genius kalau gurunya Kreatif...Semua anak Cerdas kalau gurunya Paham...dan Semua anak Hebat kalau Bundanya Sabar. Jadilah sahabat bagi anak.
Bunda dan sahabat pendidik
Tataplah matanya saat berbicara
Rangkullah tubuhnya ketika meminta
Langkahkan kakinya saat mengajak
Balaslah ketika tersenyum
Masuklah ke dunianya menjadi sahabat sejatinya
Tak terasa Lala melewati dan merasakan dunia sekolah hampir tiga bulan, entah kenapa pada suatu hari Lala datang dari sekolah dengan muka cemberut sambil mendekati sang Bunda dengan suara pelan," Bunda, mulai besok Lala nggak mau sekolah lagi " Bunda kaget kenapa tiba-tiba Lala meminta seperti itu,"Kenapa,sayang ? Apa Lala sakit ? Bunda penasaran ingin mendengar jawaban dari Lala. Lalu Lala bercerita selama di sekolah dengan keluguannya,"Di sekolah mulut Lala harus di kunci tidak boleh bicara,kaki dan tangan Lala tidak boleh bergerak,terus tidak boleh keliling duduk manis seperti patung. Lala bosan dengan sekolah seperti itu. Tak henti- hentinya sang Bunda membujuk Lala untuk sekolah lagi.
Hampir satu minggu Lala menikmati hari-harinya di rumah, ternyata ada rasa kerinduan untuk kembali ke sekolah bertemu dengan teman-temannya. Minggu kedua setelah menghilanh dari sekolah, Lala menapakkan kakinya lagi di sekolah. Dengan langkah yang lunglai seakan ada memori kejenuhan yang masih melekat dibenaknya. Agak canggung masuk ke dalam kelas meletakkan tasnya dan bergumam," Wow...indah sekali di dalam kelas di sekeliling terpampang gambar binatang,buah,profesi,transportasi dan juga ada huruf dan angka." Untuk apa semua ini,"sambil bertanya dalam hati. Bel masuk sekolah mulailah guru mengawali kegiatannya mengajak anak-anak membentuk lingkaran sambil menggerakkan tubuhnya berlari,berjongkok dan melompat dengan permainan tebak gambar. Semua gambar yang ada disekeliling kelas di tutup terbalik. Sambil berputar dan bernyanyi tiap anak mengambil gambar yang ada di dinding kelas, setelah semuanya memegang gambar tiap anak mengajukan tebak gambar sambil bernyanyi. Siapa yang bisa menebak gambar disilahkan memilih kegiatan bermain selanjutnya. Permainan selanjutnya sudah tersedi media menggambar,menempel,melukis dan bermain angka dan huruf. "Wah, asyik sekali pelajaran hari ini dengan bermain rasanya menyenangkan dan tak terasa bel istirahat sudah terdengar." Terlihat raut wajah Lala menampakkan kelelahan yang menggembirakan, keluar kelas menghampiri Bundanya sambil berbisik," Bunda, mulai hari ini dan seterusnya Lala mau sekolah..."
Bunda dan sahabat pendidik, untuk menjadi sahabat anak kita harus tahu dan paham apa yang menjadi kebutuhan anak didalam perkembangannya. Paradigma kita selayaknya sudah mulai berubah bahwa anak bukan lagi sebagai obyek tapi sebagai subyek bagi dirinya untuk memilih kegiatan yang dapat menstimulasi untuk perkembangan selanjutnya. Posisi kita sebagai fasilitator yang memberikan media bagi anak untuk dapat mengeksplor potensi yang ada dalam dirinya. Kenali karakter dan gaya belajar anak. Semua anak Genius kalau gurunya Kreatif...Semua anak Cerdas kalau gurunya Paham...dan Semua anak Hebat kalau Bundanya Sabar. Jadilah sahabat bagi anak.
Bunda dan sahabat pendidik
Tataplah matanya saat berbicara
Rangkullah tubuhnya ketika meminta
Langkahkan kakinya saat mengajak
Balaslah ketika tersenyum
Masuklah ke dunianya menjadi sahabat sejatinya
Langganan:
Komentar (Atom)