Kamis, 20 Agustus 2009

Tak gendong kemana-mana....enak toh

Sebait lagu dari almarhum mbah surip mengingatkan masa kecil yang tak lepas dari gendongan. Kala menangis di gendong, ketika sakit di gendong bahkan tatkala di suapi kadang dalam gendongan. Itu adalah wajar pada saat-saat awal kelahiran kehadiran bocah masih peka dengan sentuhan. Tapi lambat laun sejalan dengan perkembangannya, berikanlah kebebasan pada anak untuk mengenal dunia sekitar. Lepaskan dari gendongan yang membuat mereka terkungkung. Biarkanlah mereka menikmati dunianya. Tugas kita hanya mengawasi dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhannya.
Kalau anak kita selalu di gendong (dalam arti dikekang, dilarang ) maka tanpa kita sadari kita menghambat perkembangannya yang semestinya mereka sudah saatnya mengenal dunia luar. Anak balita mempunyai keingintahuan yang besar, maka berikanlah dia ruang untuk mengeksplor keinginannya, misalnya pada saat kita mencuci baju kadang anak kita mengekor dari belakang ingin juga mencuci.Apa yang harus kita lakukan? Berikan juga dia wadah untuk mencuci sehingga bisa merasakan lembutnya busa sabun dan dapat menggerakkan tangannya membilas cucian. Lalu biasakanlah anak untuk membereskan kembali apa yang sudah dilakukannya. Ini adalah bentuk pembelajaran di rumah dan kita orangtua sebagai gurunya.
Belajar adalah perubahan perilaku melalui serangkaian pengalaman. Bagaimana dengan kejadian mencuci tadi ? apakah terjadi proses belajar ? Tanpa kita sadari kalau hal ini kita lakukan secara kontinyu dalam arti memfasilitasi keingintahuan anak untuk mencoba sesuatu maka banyak pengalaman yang mereka peroleh dan akan timbul rasa percaya diri bahwa mereka bisa melakukannya serta kemandirian mereka akan terbangun sejalan dengan kedisiplinan yang terbentuk pada diri seorang anak. Jadi pahamilah jiwa anak yang selalu ingin tahu, ingin meniru, ingin mencoba sesuatu dan berikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikannya, anak-anak inilah yang kelak akan menjadi pribadi yang tangguh.
Lalu bagaimana dengan lingkungan formalnya ? Sekolahku adalah Rumahku...jadikanlah sekolah adalah rumah bagi anak, sehingga merasakan kenyamanan dan keceriaan dalam melakukan aktivitas tanpa rasa tertekan. Perlakukanlah anak sesuai dengan perkembangannya dan masuklah kita ke dunianya yaitu dunia bermain.Bukan sebaliknya memperlakukan anak sesuai dengan keinginan kita dan bahkan anak yang masuk ke dunia kita yaitu dunia orang dewasa yang di kerdilkan. Wujudkanlah keingintahuan anak yang begitu besar melalui pengalaman nyata di dalam kelas. Kebiasaan anak meniru kegiatan yang dilakukan dirumah dapat pula kita jadikan sebagai sumber belajar, seperti mencuci. Sediakan media mencuci dengan kain perca kemudian sediakan pula seutas tali untuk menjemur. Pada saat menjemur pergunakanlah penjepit baju yang disertai kartu angka. Pada kondisi ini, adakah proses belajar? Anak tidak merasakan belajar tapi bermain sambil belajar. Dan ada pengalaman yang mereka peroleh dari proses mencuci dan mengeringkan. Biasakanlah anak untuk membereskan kembali apa yang sudah dikerjakan.
Tak gendong kemana-mana...enak toh!!! Berada di zona nyaman dan over protektif hanya akan membuat anak tidak bisa menemukan jati dirinya,maka dari itu biarkanlah anak sedini mungkin untuk mengeksplor dunianya.

Bunda dan sahabat pendidik
Jadikanlah sabar untuk memahaminya
Peliharalah kata sebagai doanya
Berikanlah sentuhan wujud kasih sayangnya
Yakinlah campur tangan-Nya sebagai bentuk keikhlasan

Tidak ada komentar: